Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Cerdik Abu Nawas Menjebak Si Penyihir

hidayahilahi.com

Hidayahilahi.com- Di zaman Raja Harun Ar'Rasyid, Abu Nawas memang terkenal dengan kecerdikannya dan leluconnya. Tidak hanya Raja Harun Ar'Rasyid dan orang-orang disekitarnya saja yang terkena imbasnya, bahkan sampai tukang penyihir saja yang ingin menjebak Abu nawas juga terkena batunya. Pada suatu hari, Abu Nawas memiliki burung beo yang sangat lucu. Yang Mulia Harun Ar-Rasyid ingin memilikinya. 

“Hai, Abu nawas jika engkau memang berniat untuk menjualnya, jangan menawarkannya kepada orang lain. Tawarkan saja padaku. Berapapun harganya, saya akan membayarnya,” Ucap sang raja kepada Abu Nawas. Abu Nawas hanya berdiam saja, ia hanya mengangguk-nganggukan kepala. Dalam hati Abu Nawas memutuskan bahwa ia tidak ingin menjual burung yang tidak berharga ini kepada Yang Mulia.

Keesokan paginya, Abu Nawas datang ke Istana dengan membawa burung beo. Abunawas tidak mau menjualnya. Dia ingin memberikannya secara cuma-cuma kepada baginda Raja. Namun di gerbang istana, dua penjaga menahannya. "Kamu siapa? Ada keperluan apa?” tanya kedua penjaga dengan wajah garang. Ternyata, kedua pengawal istana itu adalah orang-orang yang dipercaya oleh Menteri Abudahi yang selalu ingin mencelakai Abu Nawas.

“Saya ingin memberikan burung ini kepada baginda raja karena beliau sangat menyukainya,” kata Abu Nawas. “Biar kuserahkan pada raja,” kata salah satu penjaga. Abu Nawas pun menurut. Dalam situasi seperti ini, dia tidak mungkin melawan. Tapi suatu hari mereka pasti akan menemui perbuatannya.

Oleh dua penjaga Menteri Abudahi, burung beo Abu Nawas ditukar dengan burung gereja. Setelah itu, diserahkan kepada raja. Perdana Menteri Abudahi yang melihat kejadian itu hanya tersenyum dan memuji perilaku anak buahnya. "Kamu keparat!" Giginya bergemeletuk menahan amarah. Baginda Raja merasa terhina dengan tindakan Abu Nawas. Burung beo yang dia harapkan malah burung gereja yang dikirim.

Tanpa menunggu waktu lama, saat itu juga baginda Raja datang ke rumah Abu nawas. “Abu nawas! Jika kamu memang keberatan menjual burung beo, saya baik-baik saja. Tapi jangan mengirim burung gereja ke istana. Itu penghinaan bagi saya! ” menegurnya dengan mata memerah menahan amarahnya. Abu Nawas pun berusaha menenangkan amarahnya. 

"Wahai yang mulia, saya tidak bermaksud untuk menipu baginda mulia. Saya bertemu dua penyihir yang merupakan penjaga gerbang istana. Mereka bisa menyihir burung gereja, dan saya yakin, besok, mereka bisa menyihir burung beo menjadi burung beo. Kalau tidak percaya, tunggu besok di istana, dia akan melihat sendiri betapa hebatnya kesaktian mereka” Sembari mengatakan itu, Abu nawas sambil mengelus burung beo yang bertengger di depan jendela rumahnya. Burung beo itulah yang akan dibuat untuk menjebak dua penjaga istana yang kejam. 

Pagi-pagi sekali, Abu Nawas sudah sampai di istana. Dia membawa burung beo di tangannya. Di depan gerbang lagi Abu nawas dicegat oleh penjaga. "Apa lagi yang kamu butuhkan di sini?" kedua penjaga itu kembali memarahi Abu nawas. "Sudah kubilang, kau tidak akan bisa bertemu dengannya!" 

Baca Juga : Kisah Abu Nawas Hampir di Bunuh Oleh Raja Harun Al-Rasyid

"Maaf, aku salah kemarin. Saya sebenarnya ingin memberikan burung beo ini kepada Anda. Tapi aku salah mengambilnya. Raja pasti marah ketika menerima burung beo itu. Semua orang tahu, Raja sangat membenci burung beo. Raja pernah tersesat di hutan karena burung beo sialan itu. Maafkan aku, aku telah membuatmu marah! ” bujuk Abu Nawas seolah-olah kisah itu benar-benar terjadi.

“Letakkan saja di sana! Biarkan aku menyerahkannya padanya nanti! ” perintah penjaga istana. Dipengaruhi oleh bujukan Abu nawas, kedua penyihir Abudahi menukar burung beo dengan burung beo. Setelah itu mereka menyerahkannya kepada raja. Keduanya bersukacita karena sebentar lagi Abu nawas pasti akan menerima hukuman yang setimpal dari Yang Mulia.

Ketika Menerima burung beo dari kedua penjaga istana, Raja terkejut. Ternyata apa yang dikatakan Abu Nawas itu benar. Kedua penjaga ini bisa menggunakan magic alias barang pemerasan yang bukan haknya. "Ini nurinya, mana burung beo?" Sarkasmenya langsung membuat wajah kedua penjaga itu pucat.

Sebelum kedua penjaga itu bisa menjawab, Raja segera memerintahkan perintah yang tak terduga. "Karena pekerjaan kalian sangat bagus, saya memberi kalian berdua hadiah cambuk masing-masing 100 kali. Perdana Menteri Abudahi, yang menyaksikan kejadian itu, kini hanya bisa sujud lesu.

Demikianlah Kisah Abu Nawas menjebak Si Penyihir dihadapan Raja Harun Ar'Rasyid. kisah diatas memberikan pelajaran untuk kita semua agar selalu menjadi orang yang jujur dan berbuat baik kepada sesama. Karena setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya. Semoga kisah diatas bisa bermanfaat untuk kita semua Amiin... Wallahu Alam Bishawab...

Posting Komentar untuk "Kisah Cerdik Abu Nawas Menjebak Si Penyihir"