Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah

Hidayahilahi.com

Hidayahilahi.com- Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah khalifah keempat. Sayyidina Ali adalah pemuda pertama dari kalangan Quraisy yang masuk Islam. Ali juga menggantikan posisi Nabi SAW di tempat tidurnya ketika Nabi SAW hijrah. Sayyidina Ali juga merupakan menantu Nabi Muhammad SAW karena menikah dengan putri tercinta Nabi SAW yaitu Fatimah yang hidupnya sangat sederhana. Sayyidina Ali adalah putra dari paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf. 

Sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Qushay bin Kilab. Ali memiliki beberapa saudara yang lebih tua darinya, yaitu: Thalib, Aqil, dan Ja'far. Dan dua saudara perempuan Ummu Hani' dan Jumanah. Sebagian ulama berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib lahir pada tahun ke 10 sebelum Nabi Muhammad SAW memulai kenabiannya atau sekitar tahun 599 atau 600 M. 

Saat lahir, Ali bin Abi Thalib sebenarnya bernama Haydar bin Abu Thalib yang artinya singa dari keluarga Abu Thalib, namun Nabi SAW tidak menyukai nama tersebut dan beliau SAW memanggilnya dengan nama Ali yang artinya “tinggi”. Ali bin Abi Thalib seorang laki-laki berkulit sawo matang, bola matanya besar dan agak kemerahan. Untuk ukuran Arab, beliau termasuk pendek, tidak tinggi dan berjenggot lebat. Dada dan bahunya berwarna putih. Rambut di dadanya dan bahunya cukup tebal. Wajahnya tampan, giginya rapi, dan langkahnya ringan (ath-Thabaqat al-Kubra, 3:25) 

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda : “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Sa’ad bin Abi Waqqash di surga, Sa'id bin Zaid di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan disahkan oleh Syekh Albani).

Pada saat Perang Khaibar, Rasulullah ingin memberikan bendera komando perang kepada seseorang. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'adi, Rasulullah bersabda: "Demi Allah, besok aku akan memberikan bendera ini kepada salah satu orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dia dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberikan kemenangan melalui dia.” Jadi tadi malam orang-orang (teman-teman) membicarakan siapa di antara mereka yang akan diberi bendera. 

Keesokan harinya, para sahabat datang kepada Nabi, lalu Nabi SAW berkata, "Di mana Ali bin Abi Thalib?" Dijawab, "Kedua matanya sakit." Nabi memerintahkan, "Panggil dan bawa dia ke sini." Ali dibawa menghadap Rasulullah, lalu Rasulullah SAW meludahi matanya yang sakit sambil mendoakannya. Tiba-tiba Ali sembuh total seperti tidak pernah sakit sebelumnya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyerahkan bendera tersebut kepadanya. Kemudian Ali berkata, “Ya Rasulullah, aku memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita.” 

Nabi bersabda : “Majulah dengan tenang, sampai kamu mencapai tempat mereka. Kemudian undang mereka ke Islam dan sampaikan hak-hak Allah yang harus mereka penuhi. Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui kamu, itu jauh lebih berharga bagimu. daripada memiliki warna merah unta.” (HR.Muslim no.4205).

Baca Juga : Kisah Sahabat Rasulullah Yang Berlomba Berbuat Kebaikan

Setelah Rasulullah SAW wafat, kepemimpinan kaum muslimin dipegang oleh Khulafair Rashidin. Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, orang-orang Arab kemudian meminta dan berjanji setia kepada Ali bin Abi Thalib untuk menjadi pemimpin mereka. Seperti kepemimpinan Umar bin Khattab keras dan disiplin. 

Ada beberapa hal yang dilakukan Ali pada masa pemerintahannya yang berlangsung selama lima tahun dari tahun 656 – 661 M, antara lain untuk menghilangkan nepotisme dan memperluas pengaruh Islam ke dunia luar. Ali bin Abi Thalib wafat dalam usia 63 tahun dan diketahui wafat akibat dibunuh oleh Abdurrahman Bin Muljam yang merupakan anggota Khawarijmi atau oposisi pada tanggal 19 Ramadhan, dan akhirnya Ali bin Abi Thalib RA menghembuskan nafasnya Terakhir pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 H. 

Ali Bin Abi Thalib adalah seorang sahabat Nabi yang memiliki kedudukan di sisi Allah SWT, sebagai seorang muslim tentunya kita harus mengetahui sejarah dan meneladani akhlaknya dan akhlaknya yang baik. Ali bin Abi Thalib adalah ayah dari dua cucu tercinta Nabi SAW, yaitu Hasan dan Husein. Kedua cucu ini adalah pemimpin para remaja di surga. Rasulullah bersabda : "Al-Hasan dan al-Husain adalah pemimpin para pemuda surga." (HR. At-Tirmidzi, no. 3781) 

Ali bin Abi Thalib berkata, "Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada seorang pun yang mencintaiku kecuali dia adalah seorang yang beriman, dan tidak ada seorang pun yang membenciku kecuali dia adalah orang yang munafik.” (HR. Muslim, no. 249) 

Menyandang gelar Karramallahu Wajhah, Sayidina Ali dipanggil atau didoakan dengan karromallahu wajhah karena dua alasan : 

1. Wajahnya tidak pernah bersujud kepada selain Allah SWT sejak sebelum beliau memeluk Islam 

2. Mata Sayidina Ali tidak pernah melihat alat kelaminnya sendiri, apalagi alat kelamin orang lain. 

Padahal beliau istinja', Ali berusaha memalingkan wajahnya agar tidak melihat auratnya. Seperti diketahui, Radiyallahu 'anhu adalah doa untuk semua sahabat Nabi. Karamallahu wajhah adalah doa khusus untuk Sayyidina Ali karena dia belum pernah melihat jenis kelaminnya sendiri. Para sahabat lainnya juga memiliki ciri khas tersendiri, Abu Bakar disebut Assidiq, Umar bin Khattab disebut Al-Faruq, sedangkan Sayyidina Usman disebut Dzunnurain. 

Dijelaskan dalam Hasyiyah Bujairomiy bahwa gelar atau do'a “Karramallaahu Wajhah” disematkan pada Sayyidina Ali, karena ia tidak pernah sujud kepada berhala, begitu juga dengan keislamannya ketika masih muda. Wallahu A'lam Bishowab.

Posting Komentar untuk "Kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah "