Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Seorang Santri yang Mendapatkan Istri gara-gara Sepotong Terong

hidayahilahi.com

Hidayahilahi.com- Di Damaskus ada sebuah masjid bernama Jami 'At-Taubah. Masjid yang penuh berkah dan ketenangan. Dinamakan “At-Taubah” karena tempat tersebut dulunya merupakan tempat hiburan yang menjadi sarang orang-orang maksiat. Oleh karena itu, salah satu raja pada abad ke-7 Hijriah membeli tempat itu, kemudian merobohkannya dan membangunnya menjadi masjid.

Selama 70 tahun, tempat itu dihuni oleh seorang ulama bernama Syekh Salim As-Suyuthi. Ia adalah seorang guru sekaligus pemimpin umat, di mana orang-orang bertanya tentang berbagai masalah, baik agama maupun duniawi.  Syekh Salim As-Suyuthi juga memiliki santri yang miskin seperti beliau. Santri itu tinggal di salah satu kamar di masjid.

Hari demi hari santri itu belajar dalam kondisi yang miskin . Pada suatu hari, dia mengalami masa yang sulit. Selama 3 hari, dia tidak makan sama sekali. Persediaan makanan sudah habis, dan dia tidak punya uang untuk membeli apapun. Keesokan harinya, pada hari keempat, dia merasa bahwa kematian ada di depan mata. Ia mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Ia memandang bahwa keadaan dia ini secara fiqih sudah dibatas yang diperbolehkan memakan bangkai, atau mencuri sesuai kebutuhan. Kemudian dia bertekad untuk mencuri sesuatu untuk melanjutkan hidupnya. Masjid At-Taubah terletak di distrik kuno. Rumah-rumah masyarakat pada waktu itu saling berhubungan, dan atap-atapnya berdekatan. Sangat memungkinkan bagi seseorang untuk berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya dengan berjalan di atas atap rumah.

Santri itu naik ke atap masjid. Dia kemudian berjalan menuju ke atap rumah masyarakat dan mencari-cari rumah yang memiliki makanan. Saat mencari, matanya secara tidak sengaja melihat seorang wanita, santri itu langsung mengalihkan pandangannya dan menjauh dari tempat wanita itu.

Di tengah pencariannya, ia juga menemukan sebuah rumah yang sedang memasak. Karena rasa laparnya yang luar biasa, aroma makanan itu seperti magnet yang menariknya lebih dekat. Dia memasuki rumah tersebut dengan mencoba melompat melalui jendela. Dia menemukan terong yang baru saja digoreng. Dia mengambil satu potong terong, lalu dia menggigit terongnya dengan satu gigitan.

Ketika dia ingin memakannya, dia juga mengingat kembali tentang jati dirinya sebagai seorang santri. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Saya berlindung kepada Allah. Saya seorang santri yang tinggal di masjid, mengapa saya berani memasuki rumah seseorang tanpa izin dan mencuri darinya?!”

Santri itu pun membesarkan masalahnya sendiri. Dia sangat menyesal dan memohon ampun kepada Allah atas tindakannya. Dia kemudian kembali ke tempatnya, dan duduk di halaqah gurunya untuk mengaji. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan gurunya karena rasa lapar yang sudah menggerogoti.

Baca Juga : Kisah Dzunnun Al-Mishri Membalas kebencian dengan Cinta

Ketika pengajian selesai, dan semua orang telah bubar, datanglah seorang wanita dengan pakaian yang sangat tertutup. Pada masa itu semua wanita mengenakan pakaian tertutup dan tidak menunjukkan wajahnya secara umum. Wanita itu mengatakan sesuatu kepada Syekh Salim dengan suara rendah, sehingga bahkan muridnya tidak dapat mendengar percakapannya.

Syekh Salim melihat sekeliling dan tidak menemukan siapa pun kecuali muridnya. Syekh Salim bertanya, "Apakah kamu sudah menikah?" Dia menjawab, "belum, Syekh." Syekh Salim melanjutkan, "Apakah kamu ingin menikah?" Santri itu diam mendengarkan pertanyaan guru. Kemudian Syekh Salim membenarkan perkataannya, “Wahai anakku, apakah kamu ingin menikah?” 

Murid itu menjawab, "Wahai guruku, aku tidak punya apa-apa meskipun uang seharga roti, lalu dengan apa aku akan menikah?" Syekh Salim kemudian menjelaskan, "Wanita itu memberitahu saya bahwa suaminya telah meninggal, dan dia tinggal sendirian di Damaskus. Dia tidak memiliki saudara laki-laki kecuali pamannya yang sudah tua, dan pamannya ada di sini." Syekh Salim menunjuk salah satu orang yang sedang duduk, memberi isyarat bahwa itu adalah paman wanita itu.

"Wanita ini mewarisi rumah mantan suaminya," lanjut Syekh Salim, "dan dia ingin mendapatkan seorang suami, agar dia tidak hidup sendiri. Namun selama mencari dia selalu menemukan orang berperilaku buruk. Apakah kamu ingin menikah dengannya? ". Karena rasa patuhnya kepada guru, muridnya pun menyetujui keinginannya.

Syekh Salim bertanya kepada wanita itu, “Apakah kamu menerima murid ini sebagai suamimu?” Wanita itu juga setuju. Paman wanita itu kemudian dihadirkan sebagai wali, dan dua orang dipanggil untuk menjadi saksi. Akad nikah segera dilaksanakan dan santri yang sudah dibekali mahar oleh gurunya pun sudah diserahkan.

Singkat cerita, setelah akad nikah, wanita itu mengantar suami barunya ke rumahnya. Saat dia masuk, wanita tersebut membuka cadarnya. Siapa kira, saat suminya melihat seorang wanita muda yang berparas cantik bagaikan bidadari. ketika dia melihat sekeliling rumah istrinya, ternyata itu adalah rumah yang kemarin dia masuki untuk dicuri. Wanita yang telah menjadi istrinya juga bertanya, "Suamiku, apakah kamu ingin makan?"

Santri yang sudah tiga hari kelaparan itu berkata dengan semangat, “Ya, saya mau makan.” Ketika istrinya pergi ke dapur, dia membuka tutupnya. Alangkah terkejutnya dia melihat bekas gigitan di salah satu terongnya. Istrinya pun berkata, “Ini adalah buah dari amanah yang ada pada dirimu. Kamu menjaga dirimu dari terong yang haram. Kemudian Allah memberikan terong dan pemiliknya dengan cara yang halal.” Wallahu A'lam Bishowab...


Posting Komentar untuk "Kisah Seorang Santri yang Mendapatkan Istri gara-gara Sepotong Terong"