Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Wanita Sufi Rabiah Al-Adawiyah Saat di Lamar oleh seorang Pria

Hidayahilahi.com

Hiayahilahi.com- Pernikahan adalah cara yang baik untuk menyatukan fitrah kemanusiaan. Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan salah satu sunnah Nabi. Pernikahan sangat penting, sehingga harus dipersiapkan dengan matang. Banyak ayat Al-Qur'an dan hadits nabi yang menganjurkan untuk melangsungkan pernikahan dengan berbagai manfaat yang disebutkan di dalamnya. 

Namun ada sebagian ulama, baik laki-laki maupun perempuan, yang memutuskan untuk tidak menikah karena berbagai alasan, termasuk kegigihannya dalam menuntut ilmu. Kitab Al-Ulama al-'Uzzab Allazina Asaru al-Ilm 'ala al-Zawaj menjelaskan bahwa sufi perempuan yang belum menikah adalah Karimah Al-Marwaziyah. Ada sufi perempuan lain yang memilih untuk tidak menikah sampai akhir hayatnya. Dia adalah Rabi'ah Al-Adawiyah.

Ia adalah sekelompok wanita yang nama dan jejak kehidupannya sangat dikenang oleh para sufi. Namanya harum di mata banyak orang. Ia dikenal karena kebijaksanaan dan kerendahan hatinya. Dikehidupan zuhudnya seolah menciptakan magnet yang menarik banyak orang untuk mengaguminya sebagai perempuan sufi yang luar biasa. Tak hanya masyarakat biasa, kekaguman ini juga dimiliki para ulama besar sezamannya.

Selama hidupnya, Rabi'ah tidak pernah menikah, bukan karena kezuhudannya untuk menikah itu sendiri, meskipun banyak orang yang melamarnya, tetapi dia lebih suka menyendiri sampai akhir hayatnya. Dia tidak menginginkan apa pun yang dapat menghentikannya dari menyembah Allah. Ia dikenal sebagai hamba Allah yang sangat taat sehingga setiap nafas yang dihembuskannya selalu disertai dengan dzikir karena Allah.

Ada kisah menarik tentang seorang pria yang mengagumi Rabi'ah. Dia adalah Hasan Al Basri. Dia adalah seorang ulama besar Irak selama zaman dinasti Umayyah. Sebagaimana dikutip dalam Kitab Syarah 'Uqudullijain karya Syekh Muhammad bin Umar An-Nawawi, ada kisah tentang sebuah pertanyaan yang diberikan kepada pria yang melamarnya. Suatu ketika Hasan Al-Bashri datang ke Rabi'ah bersama para sahabat lainnya dan meminta izin untuk masuk. Mereka berkumpul seolah-olah sedang dalam pertemuan sufi dan berusaha mendesak Rabi'ah untuk memilih salah satu dari mereka sebagai suami.

Hasan kemudian membuka pembicaraan “Wahai Rabi’ah, menikah adalah sunnah Nabi, oleh karena itu pilihlah salah satu dari kami sebagai calon suamimu”. Kemudian Rabi'ah menyuruh Hasan untuk menjawab empat pertanyaan yang dia ajukan kepada mereka, jika ada yang bisa menjawab, Rabi'ah akan menjadikan salah satunya sebagai suaminya. Kemudian Hasan berkata: "Katakanlah, dan jika Allah menghendaki, saya akan menjawab semua pertanyaan Anda."

Baca Juga : Kisah Seorang Santri yang Mendapatkan Istri gara-gara Sepotong Terong

Rabi'ah kemudian mengajukan pertanyaan pertama: "Bagaimana menurutmu, jika aku mati, apakah aku akan meninggalkan dunia ini sebagai seorang Muslim atau sebagai seorang kafir?" Hasan Al-Basri menjawab: “Masalah kematian dan tanda-tandanya adalah masalah ghaib bagi makhluk.” Rabiah kemudian menanyakan pertanyaan kedua: "Bagaimana menurutmu, jika aku dikuburkan, malaikat munkar dan Nakir bertanya kepadaku, apakah aku bisa menjawab pertanyaan mereka atau tidak?"

Hasan Al-Bashri menjawab: “Mengetahui apakah seseorang mampu menjawab pertanyaan kedua malaikat itu juga sama dengan masalah gaib yang ditanyakan sebelumnya.” Kemudian Rabi'ah memberikan pertanyaan yang ketiga: "Ketika orang-orang berkumpul di tempat peristirahatan mereka pada hari kiamat, sementara buku-buku catatan berterbangan, maka beberapa orang mengambil buku-buku amal mereka dari kanan atau dari depan yang menunjukkan bahwa orang tersebut adalah seorang mukmin yang taat. Sementara itu, ada yang diberikan dari kiri atau dari belakang, menunjukkan bahwa dia kafir. Apakah menurutmu aku akan mendapatkan buku amal dari tangan kananku atau dari tangan kiriku?"

Hasan Al-Bashri menjawab, “Mengetahui bahwa memberi buku amal juga merupakan masalah gaib.” Rabi'ah kemudian mengajukan pertanyaan keempat: “Jika sekelompok orang dipanggil pada hari kiamat untuk masuk surga dan kelompok lain masuk Neraka, apakah aku termasuk penghuni surga atau penghuni Neraka?” Hasan Al-Basri pun menjawab, “Tahukah kamu apakah kamu termasuk penghuni surga atau penghuni neraka juga ghaib."

Setelah mendengar jawaban dari Hasan Al-Basri, Rabi'ah berkata: "Apakah seseorang yang gelisah dengan empat pertanyaan ini membutuhkan seorang suami atau dia rela menghabiskan waktunya hanya untuk memilih suami?" Para ulama menangis dan meninggalkan rumah Rabi'ah dengan penuh penyesalan. Beberapa kali dia mencoba menjawab lamaran yang datang kepadanya dengan cara yang lebih halus, dengan merendahkan dirinya sendiri bahwa dia dalam keadaan khawatir, tidak mungkin baginya untuk berumah tangga. Wallahu Alam Bishowab....

Posting Komentar untuk "Kisah Wanita Sufi Rabiah Al-Adawiyah Saat di Lamar oleh seorang Pria"