Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Kejujuran Ka'ab Bin Malik

hidayahilahi.com

Hidayahilahi.com- Manfaat dari kejujuran memang terkadang tidak langsung bisa dinikmati. Tak jarang, buah dari kejujuran harus didahului dengan kesulitan dan kepahitan. Namun dengan tetap sabar dalam segala kejujuran, akan tiba saatnya kita akan merasakan keindahannya. 

Fakta sejarah yang membuktikan hal tersebut adalah Ka'ab bin Malik. Ketika dia absen dari Pertempuran perang Tabuk, dia bisa lolos dari hukuman dengan mengarang alasan agar Rasulullah SAW bisa memahaminya. Namun, cara kotor itu tidak ditempuhnya. 

Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam Kitab Al-Tawwabin mengkaji kisah Ka'ab bin Malik berikut ini. Seperti biasa, Rasulullah paling senang bepergian pada hari Kamis. Ka'ab sebenarnya bertekad untuk bergabung dengan tentara dalam perjalanannya ke Tabuk. Kamis pagi pasukan Islam berangkat. Ka'ab pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan perang nanti.

Ia mengira setelah barang-barang yang diperlukan telah dibeli, ia akan segera mengikuti rombongan pasukan Muslim itu. Sayangnya, barang yang dia butuhkan tidak ada di pasaran hari itu. Ka'ab menunggu keesokan harinya, berharap barang yang dibutuhkannya akan tersedia. Namun, barang yang dia cari tidak pernah tersedia.

Pada hari ketiga, keempat dan berikutnya tidak ada yang berubah. Hingga akhirnya Ka'ab tidak bisa lagi mengikuti pasukan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, kata Ibnu Qudamah. Ka'ab tidak berniat menghindari Perang Tabuk. Betapa gelisahnya dia ketika dia menyadari bahwa dia tidak bisa bergabung dengan Nabi dalam pertempuran itu. Hatinya begitu sedih. Dia benar-benar menyesal telah gagal menyiapkan perlengkapan perang.

Rasulullah SAW dan pasukannya akhirnya tiba di Tabuk. Nabi SAW yang tidak melihat sosok Ka'ab langsung bertanya: "Apa yang Ka'ab bin Malik lakukan?" Salah seorang dari mereka menjawab, “Hanya pakaian dan selendang yang ditinggalkannya wahai Rasulullah. Menurut Ibnu Qudamah, pernyataan tersebut merupakan sindiran terhadap seorang laki-laki yang kalah melawan kehendak istrinya.

Mendengar ucapan tersebut, Muad bin sela Jabal segera: "Hus ... sangat buruk apa yang Anda katakan. Demi Allah, ya Nabi, kami tidak melihat apa pun selain kebaikan. Sampai Perang Tabuk berakhir, Ka'ab tidak pernah datang. Di Madinah, Ka'ab tetap diliputi kesedihan. Dia sangat menyesal dan takut disalahgunakan oleh Nabi Muhammad. Ka'ab menyerah. Dia percaya pada satu hal, kejujuran yang akan menyelamatkannya.

Baca Juga : Kisah Kisah Julaibib Orang Miskin yang Selalu Dikucilkan Masyarakat, Tapi di Cintai Oleh Rasulullah

Rasulullah SAW akhirnya tiba di Madinah setelah perang usai. Nabi SAW memaafkan para sahabat yang sudah tua dan tidak bisa bergabung dengan tentara Islam. Kini tiba saatnya Ka'ab bin Malik menghadapnya. Apakah Anda belum membeli kuda? tanya Nabi. Benar, ya Rasul, jawab Ka'ab dan membungkuk. Rasul bertanya lagi, Mengapa kamu tidak datang?

Demi Allah, jika tidak ada seorang pun di sini selain Anda, kami akan melarikan diri. Kami diberi kesempatan untuk membela diri, tetapi kami tahu, wahai Nabiyullah, bahwa orang-orang tidak akan mempercayai kami. “Mudah-mudahan Allah memberi tahu kami apa yang sebenarnya terjadi pada kami,” kata Ka'ab. Rasul kemudian berkata: Jika itu benar apa yang kamu katakan, maka pergilah sampai ada keputusan dari Allah.

Ka'ab pergi dengan hati yang sangat sedih. Rasulullah SAW melarang semua sahabat berbicara dengan Ka'ab. Tidak ada yang menyapa Ka'ab, seolah-olah tembok dan bumi juga membencinya. Sampai hari ke-40 Rasulullah datang. Ka'ab diperintahkan untuk menjauhi istrinya. Haruskah saya bercerai? tanya Ka'ab. Rasulullah menjawab: Tidak, tapi jangan dekati dia.

Ka'ab mencoba yang terbaik untuk segera mendapatkan sanksi sosial, tetapi tidak berhasil. Ka'ab hanya bisa menangis. Hingga hari ke-50 tiba. Ka'ab melakukan sholat Subuh di belakang Ka'bah. Dia benar-benar bertobat. Ka'ab berdoa dengan berlinang air mata. Tiba-tiba ia mendengar suara dari atas bukit, Bergembiralah wahai Ka'ab bin Malik. Dia segera membungkuk dan berterima kasih. Kemudian seorang pria berkuda datang dan membawa kabar gembira. Ka'ab segera menemui Nabi Muhammad di masjid.

Bergembiralah wahai Ka'ab. Telah datang hari kebaikan yang belum pernah terjadi sejak kamu lahir, kata Nabi SAW, telah datang dari sisi Allah (wahyu). Ia juga membaca Surah at-Tawbat ayat 117 sampai 119. Tidak ada kesenangan yang lebih besar setelah Islam bagi Ka'ab, kecuali kejujuran kepada Rasulullah. Begitulah keikhlasan taubat Ka'ab, hingga Allah dan Rasulullah SAW mengampuni kelalaian Ka'ab bin Malik. Wallahu A'lam Bishowab.....


Posting Komentar untuk " Kisah Kejujuran Ka'ab Bin Malik"