Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Nyata Seorang Mualaf Masuk Islam Karean Do'a Anak Yang Saleh

 


Hidayahilahi.com - Seperti umumnya orang Tionghoa, kesibukan Tio Ham Liem sangat lekat dengan dunia bisnis atau perdagangan, apalagi ia seorang alumnus Fakultas Ekonomi dari Universitas Indonesia, sehingga karena kesibukannya hanyalah mengejar materi dunia, dan perhatiannya kepada istri dan ketiga anaknya menjadi berkurang. Karena kondisi seperti itulah rumah tangga yang ia bina menjadi tidak harmonis. Pertengkaran kerap mewarnai kehidupan rumah tangganya. Ketiga anaknya bahkan sudah terbiasa menyaksikan pertengkaran ayah serta ibu mereka. Di mata mereka, kedua orang tuanya sudah tidak mempunyai wibawa lagi sebagai orang tua yang seharusnya mereka taati dan hormati. Alhasil, rumah tangga nyaris menjadi cerai berai.

    "Jangan bertanya soal agama kepada saya, pasti saya tidak dapat menjawab dengan tegas apa agama saya. Di KTP saya beragama Budha. Tetapi, saya sering mengikuti kebaktian di gereja Katolik, meskipun saya belum dibaptis. Di lain waktu, pada saat-saat tertentu saya sebagai orang Tionghoa, saya kadang-kadang ikut upacara tradisional leluhur Konghucu. Agama menurut saya pada saat itu hanyalah formalitas belaka yang statusnya sebagai warga Indonesia.”

    Dahulu segala urusan tidak pernah di kembalikan kepada Tuhan. Dalam perjalanan hidup sebagai pengusaha, saya sering kali mendapatkan musibah, mobil pernah terbakar hingga nyaris merenggut nyawa. Piutang yang cukup besar pernah tidak di bayar orang bahkan Apotik saya pernah di segel. Namun sejauh itu saya tidak menyadarinya bahwa hal itu cobaan dari Tuhan. Akibatnya saya mudah cepat emosi yang menyebabkan pertengkaran yang berlarut-larut. Bagi ketiga anak saya, rumah tidak lebih ibarat neraka sehingga mereka tidak betah di rumah, dan mencari ketenangan di rumah. 

    Anak saya yang tertua bernama Yuliwati. Tanpa sepengetahuan saya Yuliwasi sering berkunjung di rumah teman nya yang beragama Islam. Dan ternyata dia amat terkesan dengan kehidupan keluarga temannya yang dinilai harmonis. Akhirnya Yuli mengetahui sumber dari kehidupan rumah tangga yang harmonis, yang dasar nya yaitu dari Al-qur’an dan Hadist. Dari sinilah Yuli mempelajari Agama Islam, seperti sholat, puasa, dan lain-lain. Walaupun Yuli belum di islam kan,Yuli secara sembunyi-sembunyi telah melaksanakan puasa dan sholat fardhu, namun satu keluarga tidak ada yang mengetahuinya.

    Sebagai pengusaha swasta, saya mengikuti kewajiban penataran. Pada bagian akhir penataran, disitulah saya mendapatkan sesuatu yang baru. Pada saat itu pemandu penataran yang merupakan seorang muslim membawakan materi Falsafah Hidup Bangsa Indonesia dengan pendekatan Islam. Pada hari itulah saya mendapatkan wawasan tentang akhirat, sesuatu yang tidak pernah saya jumpai dalam ajaran agama Konghucu, Budha, maupun Khatolik. Dalam ajaran Khatolik ada kehidupan Surga dan Neraka, namun ukuran nya tidak jelas. 

    Kebetulan pada saat saya berkunjung kerumah keluarga yang sedang sakit, saya berkenalan dengan seorang Kyai yang sengaja datang untuk mengobati orang tersebut. Dalam perkenalan itu lah terjadi dialog yang cukup serius, beliau berkesimpulan bahwa saya adalah seorang yang tidak mempunyai agama yang jelas. Akhirnya dengan penuh keyakinan si Kyai mengajak saya untuk sholat Ashar berjamaah, semula saya agak kaget karena saya belum tau caranya, namun beliau meminta saya mengikutinya saja. Sebelum sholat, saya disuruh berwudlu dahulu dan itu semata-mata hanya mengikuti ajakan Kyai yang sekadar coba-coba.

    Di saat sujud rakaat terakhir, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang aneh yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Keharuan tiba-tiba datang mengisi relung hati saya, sehingga saya meneteskan air mata. Setelah hal itu terjadi, saya utarakan kepada Kyai, dengan spontan Pak Kyai mengatakan bahwa itu hidayah Allah kepada saya. Meskipun saya belum paham betul apa yang dimaksud Kyai tersebut, namun di sisi lain saya merasakan ketentraman batin yang selama ini tidak pernah saya rasakan. Disaat saya akan pulang, Kyai berpesan agar saya berfikir untuk masuk Islam. 

    Suatu hari, akhirnya setelah berfikir masak-masak saya berniat masuk Islam. Niat ini saya smapaikan kepada istri dan ketiga anak saya. Namun yang menyetujui hanya isrti dan anak tertua saya terlebih dahulu, dan kedua anak saya yang lain justru memilih untuk mengimani agama Khatolik. Setelah menjadi Muslim, saya baru mengetahui bahwa anak saya lah yang selama ini selalu berdoa agar ayah dan ibunya masuk Islam. Dua tahun kemudian ana kedua saya mengikuti jejak kakak nya yang menjadi muslimah, setelah sebelumnya ia terserang  suatu penyakit aneh, dan baru sembuh setelah masuk Islam. Sementara anak saya yang ketiga, seorang laki-laki, masih tetap dalam iman Khatolik nya, dan inilah suatu peristiwa yang tak lain didapatkan dari karunia Allah SWT.




Posting Komentar untuk "Kisah Nyata Seorang Mualaf Masuk Islam Karean Do'a Anak Yang Saleh"