Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Ulama Semarang KH.RIDWAN MUJAHID, Ketika Mondok Sering Dilanda Kelaparan


Hidayahilahi.com - KH.Ridwan Mujahid memiliki hubungan darah dengan Rosullullah SAW. Beliau merupakan keturunan Ulama Lasem yang Hijrah ke kota Semarang untuk menyebarkan Agama Islam di sana. Di masa kecilnya KH. Ridwan hidup dalam lingkungan yang agamis, beliau mempelajari dasar-dasar Ilmu Agama Islam seperti, Tauhid, membaca al-Qur’an, Teologi, dan Gramatika Arab dari ayah nya sendiri. Setelah mematangkan ilmunya di Lasem, KH. Ridwan melanjutkan belajarnya di Pesantren Sarang untuk belajar kepada Ulama alim yang masyhur dengan Gramatika Arabnya, yaitu Kiyai Umar bin Harun.

Ketika KH.Ridwan Mujahid nyantri di Pesantren Sarang, Ada wabah  kelaparan sebab gagal panen atau hasil bumi yang di jarah oleh penjajah Belanda. Sehingga mau tidak mau KH. Ridawan Mujahid harus Tirakat, dalam arti menyedikitkan makan sebab minimnya bekal yang di bawa dari rumah. Terkadang bekal mondok yang berupa beras juga dicuri orang yang sedang dilanda kelaparan.


    Untuk mengatasi agar beras dan bekal yang dibawa tidak di curi orang, maka KH.Ridwan Mujahid beseta dengan teman-temanya seperti Kyai Zuhdi, Kyai Baidlowi bin Abdul Aziz, Kyai Muhaimin bin Abdul Aziz dan Kyai Sayuti bib Abdul Aziz bergilir untuk menjaga berasnya. Keadaan yang sangat kritis tapi tidak membuat semangat belajar KH.Ridwan Mujahid dan teman-temanya surut. Setelah belajar dari Sarang, KH.Ridwan Mujahid melanjutkan pengembaraan ilmu nya menuju Semarang untuk belajar kepada Kyai Shaleh Darat. Teman seperguruan KH.Ridwan Mujahid ketika belajar kepada Kyai Shaleh Darat adalah Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Ahmad Dahlan.


    Dikarenakan semangat beliau dalam mencari ilmu, beliau melanjutkan Studinya menuju Haramain untuk lebih mendalami Ilmu Agamanya yang di dapat dari Pulau Jawa . Di Hijaz ini, beliau belajar kepada Ulama-ulama Haramain yang mengajar di Masjidil Haram terlebih kepada Syaikh Mahfudz At-Turmusi. Dirasa sudah lama belajar di Haramain, beliau lalu pulang ke kampung halaman nya, dan karena beliau ingin memperluas Dakwahnya , KH.Ridwan Mujahid pindah menuju Semarang untuk melanjutkan perjuangan Gurunya.


    Di Semarang KH.Ridwan Mujahid mempunyai sebuah Pesantren untuk meneruskan perjuangan guru-gurunya dalam menyebarkan  Agama Islam. Salah satu Santrinya adalah Kyai Ma’shum Ahmad yang merupakan Ulama yang ikut serta dalam pendirian Nahdlatul Ulama. KH.Ridwan Mujahid merupakan Ulama asal Semarang yang menjadi salah satu pendiri Nahdlatul Ulama pada saat deklarasikan tanggal 16 Rajab 1344H/31 Januari 1926 M di Surabaya bersama dengan Ulama terkemuka lainnya seperti KH.Hasyim Asy’ari, KH.Wahab Hasbullah dan KH.Bishri Syansuri.


    Keikutsertaan KH.Ridwan Mujahid dalam Organisasi Nahdlatul Ulama ini membuat daya tarik tersendiri bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitar nya sehingga mereka mau masuk ke dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Perkembangan Nahdlatul Ulama di Kota Semarang tidak bisa di lepaskan dari sosok KH.Ridwan Mujahid, beliau bersama dengan KH.Abdullah dan KH.Showam memprakarsai berdirinya  NU cabang Semarang sebagai wujud antusias atas lahirnya NU yang berpusat di Surabaya. Hingga tahun 50-an, kegiatan NU di Kota Semarang masih menginduk di rumah pengurus-pengurus yang menjadi pimpinan di waktu itu. Di antara tempat yang sering di jadikan sebagai kesekretarian NU Kota Semarang adalah rumahnya KH.Irhas(Ketua Syuriah Tahun 50-an)


     NU Kota Semarang pertama kali mempunyai kantor tetap di Jl.Sudirman sekitar Tahun 1970-an setelah salah satu Warga Nahdliyyin ada yang mewakafkan tanah nya untuk kemaslahatan NU. Pada awal Tahun 1992 sampai sekarang, kantor NU Kota Semarang berpindah lagi. Yaitu, berada di Jl.Puspogiwang Semarang.




Posting Komentar untuk "Kisah Ulama Semarang KH.RIDWAN MUJAHID, Ketika Mondok Sering Dilanda Kelaparan "