Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

TEROR ABU JAHAL


Hidayahilahi.com - Banyak orang tidak percaya, lebih-lebih bagi orang kafir, tentang perjalanan Rasulullah Saw. Dari Mekah ke Baitul Maqdis di Palestina yang hanya ditempuh kurang dalam waktu semalam. Ketidak percayaan mereka hanya didasarkan pertimbangan rasio semata dan dengan melihat transportasi yang ada pada saat itu. Mereka lupa tentang kekuasaan Tuhan yang membuat rasio itu sendiri, yang mampu melakukan apa saja menurut kehendak-Nya.

Segalanya bisa mungkin terjadi bila Allah menghendakinya, ini bila dipertimbangkan dengan segi Tauhid. Tetapi, ada saja sekelompok orang yang tidak mudah percaya begitu saja tanpa bukti-bukti yang autentik dan masuk akal, mereka tidak akan percaya keberadaan Tuhan. Hal ini yang dilakukan oleh orang Quraisy dalam menanggapi kisah perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulallah Saw. Mereka tidak percaya begitu saja oleh apa yang diceritakan Rasulallah Saw. Mereka menuntut Rasulallah Saw. Untuk mengemukakan bukti-bukti rasional jika beliau benar-benar pergi ke Baitul Maqdis dari Mekah hanya dalam waktu kurang dari semalam. Kisahnya adalah sebagai berikut.

Setibanya Rasulullah Saw di kota Mekah dari perjalanan Isra’ Mi’rajnya, pagi harinya, beliau menyampaikan apa yang dialaminya tadi malam di hadapan orang banyak. Tentu saja semua orang mendustakannya karena yang dipakai nalar oleh mereka adalah berdasarkan rasio semata. Kalau rasio yang menjadi pertimbangan, mustahil hal tersebut terjadi.

Di saat beliau duduk sendirian dengan penuh keprihatinan dan kesedihan karena umatnya mendustakan perjalanan Isra’ Mi’rajnya, tiba-tiba musuh Allah, yaitu Abu Jahal datang kepadanya, seraya bertanya dengan nada menghina, “Wahai Muhammad, apa yang kamu lakukan tadi malam?”. Rasulullah Saw menjawab jujur dengan perasaan tenang, “Tadi malam aku dijalankan Allah.” Abu Jahal bertanya lagi, “Ke mana kamu dijalakan?” Rasulallah Saw menjawab, “ Aku dijalankan oleh Allah ke Baitul Maqis”.

Mendengar jawaban Rasulullah Saw yang terakhir ini, Abu jahal tertawa terbahak-bahak dengan penuh kesinisan, seraya berkata “Akhirnya, kamu tiba kembali ke sini di tengah kami ini sebelum waktu subuh.” Rasulallah Saw lalu menjawab dengan tenang, “Benar, aku kembali ke sini sebelum waktu subuh.” Mendengar jawaban Rasulullah Saw yang tegas, tanpa ada  rasa takut bila ucapanya itu nanti di dustakan oleh orang lain, hal itu sudah mampu menggetarkan hati Abu Jahal.

    Pada dasarnya, hati kecil Abu Jahal membenarkan cerita Rasulallah Saw sebab sejak kecil beliau tidak pernah berdusta sedikitpun, meskipun kebenaran itu dirasakan pahit olehnya. Akan tetapi, ia merasa gengsi dan malu besar bila sampai membenarkan Muhammad Saw di hadapan para pembesar kaum kafir Quraisy. Kemudian, Abu Jahal berkata kepada Rasulallah Saw, “Bagaimana kalau aku mengumpulkan seluruh penduduk Mekah ini, kamu berani menceritakan tentang perjalanan Isra’ Mi’rajmu tadi malam di hadapan mereka, sebagaimana yang kamu ceritakan kepadaku?.”

Rasulullah Saw menjawab, “Baiklah kalau itu keinginanmu, aku akan menceritakan di hadapan mereka tentang perjalanan Isra’ Mi’rajku di hadapan mereka.” Setelah pertemuan tersebut, Abu Jahal lalu mengumpulkan seluruh masyarakat kota Mekah, seraya berseru, “Wahai masyarakat keturunan Bani Ka’ab bin Lubay, berkumpullah kalian ke sini.”

Dalam waktu singkat penduduk Mekah sudah berkumpul di hadapan Abu Jahal. Mereka ada yang berdiri juga ada yang duduk dengan seluruh pandangan matanya tertuju pada Rasulullah Saw dan Abu Jahal. Mereka ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Abu Jahal kepada penduduk Mekah sebab setiap kali Abu Jahal mengumpulkan masyarakat Mekah pasti ada peristiwa yang luar biasa, setidak-tidaknya ada perkara yang sangat penting yang harus diketahui oleh penduduk Mekah.

Sesudah semuanya berkumpul, Abu Jahal kemudian berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Muhammad, ceritakanlah kepada mereka tentang perjalanan Isra’ Mi’rajmu, seperti yang kamu ceritakan kepadaku.” Rasulullah saw lalu berpindah di hadapan masyarakat Mekah tanpa ada perasaan gentar sedikit pun, beliau mengatakan, “Tadi malam, aku telah diisrakan oleh Allah.”

Mereka kemudian bertanya, “ Kemana kamu diisrakan wahai Muhammad?” Rasulullah menjawab, “Aku diisrakan oleh Allah menuju Baitul Maqdis.” Mereka bertanya lagi, “Pada hari ini, kamu sudah tiba kembali di tengah-tengah kami?” Rasulullah saw menjawab, “Benar, aku tiba kembali  di kota Mekah ini sebelum waktu subuh.”

Masyarakat Mekah yang mendapat jawaban Rasulullah saw langsung bersorak-sorai dengan mendustakannya. Ada yang meletakkan tangan di atas kepalanya dengan berjingkrak-jingkrak karena rasa takjubnya kepada cerita Rasulullah saw itu, juga ada di antara mereka yang menjerit-jerit dengan kerasnya untuk melecahkan cerita Rasulullah saw tersebut, sekaligus mendustakannya.

Mereka menganggap cerita Rasulullah itu dianggap aneh dan tidak masuk akal, maka tidak heran bila di antara mereka ada yang menganggap Rasulullah sudah mulai gila. Dan, baru pada saat itu, Rasulullah saw didustakan oleh penduduk Mekah yang sebelumnya senantiasa  mempercayai dan membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, ketidak percayaan mereka ini hanya didasarkan pada pertimbangan logika saja.

Di tengah hiruk-pikuknya masyarakat Mekah yang tidak mempercayai cerita Rasulullah saw, tiba-tiba ada seseorang yang menyeruak di antara mereka menuju ke arah Rasulullah, orang tersebut bernama Muth’im bin Adi. Sesampainya di depan Rasulullah, ia berkata dengan kasar, "Setiap ucapanmu sebelum hari ini, aku mendustakan ceritamu. Sebab, aku mengalami sendiri, aku pernah pergi dari Mekah menuju Baitul Maqdis dengan mengendarai unta selama satu bulan penuh, bagaimana bisa kamu pulang pergi antara Mekah dan Baitul Maqdis hanya semalam saja. Demi Laata' dan Uzza (nama berhala) aku tidak membenarkan ucapan itu."

        Abu Bakar yang menyaksikan kejadian itu langsung mendekati Muth'im, seraya berkata, "Wahai Muth'im, seburuk-buruknya sesuatu adalah apa yang kamu ucapkan kepada saudaramu ini, kamu telah mendustakannya. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa Muhammad saw adalah orang yang benar." Masyarakat yang melihat perdebatan antara Muth'im dan Abu Bakar tentang kebenaran cerita yang disampaikan oleh Rasulullah saw, maka orang-orang yang ada di hadapan Rasulullah saw lalu bertanya kepada beliau, "Wahai Muhammad, terangkanlah kepada kami kalau kamu benar-benar pergi ke Baitl Maqdis, bagaimana bentuk sebenarnya Baitul Maqdis itu ? Bagaimana keadaan sekelilingnya? Da, berapa jauh jaraknya antara Baitul Maqdis dan gunung yang ada di dekatnya?"

    Rasulullah kemudian menjawabnya dengan rinci, sesuai kenyataan yang beliau lihat, namun ketika beliau ditanya tentang jumlah pintu Masjid Baitul Maqdis, beliau langsung merasa sedih, karena takut tidak bisa menjawab, sebab beliau tidak sempat menghitung berapa banyak jumlahnya. Akhirnya, Allah membuka hijab kepada Rasulullah sehingga beliau dapat melihat dengan jelas seluruh pintu masjid itu.

    Lalu orang-orang tidak menyangka atas kebenaran itu, orang-orang yang beriman semakin mantap dan yakin atas kekuasaan Allah. Namun, bagi orang-orang yang berhati beku, mereka menyangka bahwa hal itu adalah kelihaian sihir yang dibuat oleh Rasulullah saw. Inilah kekuasaan Allah  yang terbukti sebagai mukjizat kepada hamba-Nya yang dicintai. 



Sumber : Mukjizat Rasulullah Saw

Posting Komentar untuk "TEROR ABU JAHAL"